Sabtu, 12 April 2014

Regenerasi Dalang, Masalah yang Masih Mengitari

Diposting oleh Risa Puspitarini Sabandi di 18.59

Ada tanda-tanda menggembirakan pada dasawarsa terakhir ini, semenjak beberapa daerah muncul sejumlah generasi muda, bahkan anak-anak, yang bersemangat untuk menjadi dalang, sebagai pilihan profesi mereka. Hal ini dapat dilacak langsung di beberapa pentas pakeliran di sejumlah kawasan dan berbagai bentuk festival dalang; yang diselenggarakan secara rutin atau pereodik di beberapa kota seperti: Surabaya, Surakarta, dan di wilayah DKI.

Kondisi yang menggembirakan tersebut untuk sementara memberikan kesejukan bagi orang-orang yang digelisahkan oleh adanya gelombang nilai-nilai baru serta akibat globalisasi. Ada kekhawatiran pertunjukan wayang akan mati, sebab sebagian besar anak muda sekarang sudah tidak lagi terkondisi di dalam budaya Jawa. Yang lebih mengkhawatirkan adalah adanya distorsi nilai dalam pertunjukan wayang, yang juga disebut dengan pakeliran itu.

Roh atau spirit wayang sudah meninggalkannya, sebab sudah diangslupi oleh keinginan-keinginan atau nafsu-nafsu duniawi dalam hampir semua pentas sekarang. Pembesaran dan penjamakan perabot wayang dan gamelan sekarang tidak diimbangi dengan kecerdasan kreatif lagi. Pertanyaannya adalah, kira-kira memiliki motivasi apa mereka (anak muda) bersemangat menjadi dalang? Motivasi ini, secara sadar atau tidak, sering terungkap dalam pakeliran mereka, seperti: agar kelak dapat menjadi dalang seperti dalang kondang yang menjadi idola masing-masing. Motivasi mereka yang lain, meski bersifat klise, yang inyinua adalah kepengin ikut melestarikan seni tradisi yang adi luhung, warisan nenek moyang yang sudah berusia berabad-abad.

Di masa lampau, regenerasi dalang ini berjalan secara alami. Dalam arti, secara tidak langsung, anak dalang yang lahir dan dibesarkan di lingkungan dalang, lazimnya terkondisi serta berpotensi untuk menjadi dalang. Diawali dari sekedar meniru-niru apa yang dilakukan dalang senior, seperti dalam hal melagukan suluk, menggerakkan wayang atau sabet, dan mengucapkan beberapa dialog atau janturan pocapan. Setelah berani dan dinggap pantas, bakalan dalang ini diberi kesempatan untuk pentas mucuki, yaitu mayang sebelum orang tua mereka, atau dalang lain, menyajikan pakeliran yang utama.

Di masa lalu juga, mucuki ini biasanya dilakukan beberapa kali, setelah dianggap layak, anak dalang ini mendapat kesempatan untuk mendalang di waktu siang, lengkap satu lakon, meski repertoar masih terbatas. Setelah mendapat pujian, dorongan motivasi, dan juga tidak jarang mendapat umpatan dan cemooah orangtua mereka jika melakukan kesalahan. Misalnya: matamu apa ora nyawang, gobogmu apa budheg, mula gatekna yen bapak lagi mayang. Yang intinya supaya si anak benar-benar memperhatikan saat orangtua mereka sedang mendalang. Oleh sebab itulah, pada umumnya, pakeliran yang dilakukan anak tidak mungkin menyimpang dari apa saja saja yang dilakukan oleh orang tuanya. Dari hal yang paling kecil sampai hal-hal yang bersifat mendasar. Mulai dari cara berbusana, warna suara, teknik serta cara pergelaran wayang atau pakeliran suluk, sabet, antawacana, janturan, pocapan, perbendaharaan gendhing dan keprakan, dhodhogan) sampai bentuk humor, garapan alur ceruta, wacana yang dikembangkan, dan sebagainya.

Setelah mendapat pengakuan dari berbagai pihak, anak dalang ini selanjutnya dipercaya untuk mendalang secara utuh di malam hari. Jika anak sudah semakin dewasa dan mandiri menjadi dalang, pewarisan jagat wayang berjalan mulus, orang tua secara pelan-pelan mulai menikmati masa pensiunnya, menjadi dalang ruwat sampai ajal menjemput. Dikatakan menikmati masa pension, sebab sebagian besar persyaratan sesaji untuk menyelenggarakan ruwatan dapat dipandang sebagai nafkah utama bagi dalang sepuh; berbagai jenis unggas (sepasang ayam, sepasang itik, dan lain-lain), bermacam-macam corak dan atau motif kain (jarit), dan sebagainya.

Cara pewarisan pedalangan secara tradisional, seperti yang disampaikan di muka, dinamakan model ngenger dan nyantrik. Ngenger, adalah seperti berguru pada dalang lain. Anak didik menerima pelajaran tidak secara langsung, berbeda dengan sistem pembelajaran kelas. Calon dalang diwajibkan mengikuti ke mana pun saat sang guru mendalang. Lebih dari itu, si anak juga membantu dan melakukan pekerjaan rumah tangga; seperti momong (mengurus anaknya sang guru), bercocok tanam, membersihkan halaman, mengisi bak kamar mandi, dan mengawal gamelan wayang untuk pentas, serta juga menjadi pengrawit.

Nyantrik, merupakan model pembelajaran tradisional, selain mengikuti sang guru mendalang, di rumah sang cantrik mendapat pelajaran mendalang secara khusus di rumah guru. Perbedaan yang mencolok dengan model ngenger hanya terletak pada beban kerja tambahan. Dalam model ini sang murid tidak diharuskan mengerjakan tugas-tugas kewajiban rumah tangga. Hasil dari model ini ini lazimnya lebih cepat dibandingkan dengan yang melalui model ngenger. Baik model ngenger maupun nyantrik cenderung menggunakan tradisi lisan. Bahkan semacam ada larangan untuk mencatat. Seorang calon dalang pada umumnya tidak hanya ngenger dan nyantrik pada seorang guru saja. Mereka dapat memilih sejumlah dalang semior yang menjadi idola mereka. Mereka berguru tidak hanya kepada satu dalang, disebabkan sangat langka mencari dalang yang memiliki kemampuan yang sempurna di segala bidang teknik pakeliran. Sehingga, dapat terjadi di bidang catur berguru pada dalang A, bidang lakon kepada dalang B, bidang pendramaan kepada dalang C dan seterusnya.

Semenjak tahun 1923, berdirilah tempat pembelajaran dalang di beberapa kota, seperti Padhasuka akronim dari Pasinaon Dalang Surakarta dan PDMN singkatan dari Pasinaon Dalang Mangku Nagaran (keduanya di Surakarta) serta Habirandha singkatan dari Hamurwani Biwara Rancangan Dalang (Yogyakarta), merupakan bentuk lanjut pewarisan dalang. Ketiga tempat itu didirikan oleh pihak kerajaan. Sebagian peserta didik adalah anak dalang yang sudah memiliki bekal cukup, bahkan banyak yang sudah kerap mendalang di masyarakat sekitar. Para guru dipilih dari para empu ahli pedalangan keraton, seperti Ki Dutadipraja, Ki Nayawirangka, Ki Redisuta, Ki Kodrat, dan Ki Wiradat.

System pembelajaran di tempat-tempat kursus ini sebagian masih merupakan bentuk lanjutan model nyantrik, yaitu para murid lebih banyak menirukan apa yang dilakukan oleh guru-gurunya. Di ketiga tempat belajar mendalang ini mulai dikenal tradisi tulis, teks sederhana merupakan panduan teknik (yang kemudian terkenal dengan istilah pakem). Pakem yang semula sebagai acuan calon dalang, di luar menjadi bahan perbantahan yang belum usai, meliputi: teks cerita, petunjuk dasar teknis pakeliran, dan silsilah para tokoh wayang. Pada kenyataannya, yang jarang dipahami khalayak luas, di setiap tempat dan waktu memiliki pakem masing-masing. Di luar waktu belajar, para siswa mendapat banyak kesempatan untuk membaca berbagai koleksi buku susatra wayang dan budaya yang rekevan dengan dunia wayang. Oleh sebab itulah, para alumnus dari sekolah-sekolah ini, rata-rata memiliki kemampuan berbahasa wayang secara unggul. Mereka itu di antaranya: Ki Pujasumarta, Ki Tiksnasudarsa, Ki Kiyatdiharja, Ki Gandamijoyo (Maktal), Ki Wignyasuswastra, Ki Gitasewaka, Ki Sujarna Atmagunarda, Ki Sutina Hardacarita, dan masih banyak lagi yang sebagian besar sudah meninggal. Di luar tembok keraton, selain masih ada yang melanjutkan model nyantrik (seperti di Ceper dan Pengging misalnya), juga berdiri berbagai kursus dalang yang mengacu pada ketiga lembaga resmi di atas.

Tempat-tempat kursus dalang itu konon menebar di berbagai kota, seperti Semarang, Magelang, Surabaya, Madiun, Nganjuk, Malang, dan Jakarta. Guru-guru kursus pedalangan ini lazimnya merupakan alumni dari Padhasuka, Habirandha, dan PDMN. Masa suburnya tempat kursus dalang ini berkisar antara tahun 1940 sampai dengan sekitar akhir tahun 60-an. Kalau sekarang masih ada beberapa tempat sanggar pembelajaran dalang, mungkin tidak teramati penulis. Kursus-kursus pedalangan itu rata-rata menerima murid sekitar sepuluh orang, terdiri atas anak dalang atau pecinta wayang dari berbagai kawasan. Kemudian hari di antara mereka menjadi dalang lokal, ada yang sangat popular seperti Ki Anom Suroto, Ki Manteb Soedharsono, Ki Cermosutejo (Yogyakarta), Ki Harsono (Magelang), Ki Suruno (Surabaya), dan almarhum Ki Hari Bawono (Lumajang). Tentu saja masih banyak lagi dan bertebaran di berbagai daerah, dengan tingkat popularitasnya masing-masing. Sedangkan para dalang, yang pernah menduduki popular puncak, dari model ngenger danatau nyantrik, di antaranya adalah Ki Kandhalesana (Klaten), Ki Nyatacarita (Kartasura), Ki Nartasabda (Semarang), Ki Gandabana (Madiun) Ki Gandasudarsana/Darman (Kedungbanteng, Ngawi), Ki Naryacarita (Kartasura), Ki Timbul Cermamanggala (Bantul, DIY), Ki Hadisugita (Kulonprogo), Ki Gito Purbocario (Banyumas), Ki Gino Siswocarito (Banyumas), Ki Mujaka Jakaraharja (Gombang, Boyolali), Ki Wajiran (Pengging, Boyolali), Ki Kesdik Kesdalamana (Klaten), Ki Sutikna Slamet (Klaten), Ki Catur Tulus (Kartasura), Ki Suwaji (Begadung, Nganjuk) dan Ki Harjunadi (Kota Nganjuk), serta Ki Sakri (Madiun).

Semua nama yang disampaikan ini sayang sebagian besar sudah meninggal. Sejumlah nama dalang terkenal yang disebut di atas, biasanya memiliki cara khas dalam menyajikan pakeliran. Apabila cara khas ini banyak yang menirukannya, kemudian menjadi sebuah masjab tersendiri, yang di kalangan dalang sering terjadi salah kaprah disebut dengan cengkok atau gagrak.

Penulis mempunyai asumsi, kemungkinan besar munculnya gaya dan atau subgaya tertentu lahir dari cara khas dalang tersohor di suatu daerah, yang memiliki wilayah pengaruh di kawasan daerah tertentu Kontinyunitas pewarisan budaya wayang terus berlanjut. Selaras dengan perkembangan negeri ini, pada tanggal 27 Agustus 1950 di Surakarta oleh Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan didirikan Konservatori Karawitan Indonesia Surakarta (sekarang menjadi SMKN 8 Surakarta). Dari sinilah munculnya system pendidikan klasikal pedalangan. Para siswa tidak hanya mendapat pelajaran mendalang, tetapi juga pengetahuan dan praktik bidang seni tradisi yang lain (karawitan dan tari). Dalang yang paling terkenal dari lulusan Konservatori Karawitan Indonesia Surakarta adalah Ki Panut Sosro Darmoko (89 tahun, dari Nganjuk). Belakangan diketahui bahwa dalang yang satu ini, selain keturunan dalang, dalam kurun waktu bersamaan Ki Panut Sosro Darmoko, juga mengikuti kursus pedalangan yang diselenggarakan KKKS (Kursus Kesenian Keraton Surakarta) dan HBS (Himpunan Budaya Surakarta) untuk memperdalam kemahirannya di dalam dunia pedalangan. Pada tanggal 14 Juli 1964 di Surakarta berdiri ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) Surakarta, sekarang (2008) menjadi Institut Seni Indonesia Surakarta. Pada awalnya, seperti halnya di Konservatori Karawitan Indonesia Surakarta, pengetahuan dan praktik pedalangan masih diberikan kepada seluruh mahasiswa. Baru sejak tahun 1973, oleh SD Humardani, dibuka Arah Studi Pedalangan, yang khusus memperdalam seni pedalangan. Penetapan nama arah studi ini untuk mengantisipasi kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar tidak mendirikan jurusan baru.

Satu-satunya tujuan pendidikan di arah studi ini lebih ditujukan sebagai sarana menyiapkan mahasiswa untuk menjadi seniman yang handal. Program kesarjanaan dianggap belum terlalu mendesak untuk dibuka. Asumsinya adalah seniman kreatif di Indonesia sangat diperlukan. Berkaitan dengan itu, mahasiswa memperoleh pengetahuan dan melaksanakan praktik pakeliran yang diampu oleh para empu dalang pilihan, seperti Ki R. Sutrisna (Klaten), Ki Gunamiharjo (Wonogiri), Ki Sumardi Madyacarita (Surakarta), Ki Samsujin Prabaharjana (Surakarta), Ki Darsamartana (Surakarta), Ki Naryacarita (Kartasura), Ki Catur Tulus (Kartasura), Ki Pringgasatata (Boyolali), Ki Suratna (Surakarta), Ki Sangkana Ciptawardaya (Yogyakarta), dan Ki Sukarno (Sentolo, Kulonprogo). Mahasiswa juga diwajibkan melakukan penggalian dan penjelajahan seluas-luasnya dalam dunia pedalangan. Mereka kerap kali dianjurkan dan difasilitasi untuk melaksanakan interaksi intens dan menyerap kemampuan para dalang sepuh secara langsung dari berbagai daerah.

System pembelajaran di ASKI Surakarta, waktu itu, masih merupakan lanjutan dari cara-cara sebelumnya, yaitu menirukan serta praktik mandiri. Para mahasiswa diwajibkan untuk menguasai teknis pakeliran secara tuntas. Hal ini penting sebagai modal dasar bagi para tunas dalang yang akan mengembangkan dunia pakeliran. Dan ini dapat diberlakukan juga bagi cabang seni tradisi lain; karawitan dan tari misalnya. Agar tidak terjebak pada niat untuk bercerita tentang sejarah lembaga pembelajaran dalang, maka fokus tulisan perlu dikembalikan memotret pada proses regenerasi dalang. Ternyata berbagai cara yang selalu dicoba-cobakan di beberapa lembaga pendidikan dalang, sampai sekarang, belum menunjukkan adanya hasil yang signifikan. Artinya, produk atau lulusan dari sejumlah lembaga pembelajaran pedalangan sekarang nyaris belum kalau tidak boleh disebut dengan sama sekali tidak dapat menjawab tantangan zaman.

Para dalang sekarang termasuk para lulusan berbagai lembaga pendidikan pedalangan sebagian besar tidak sekedar melayani, tetapi ada kecenderungan sangat memanjakan penonton. Padahal tidak semua penonton wayang memiliki bekal apresiasi yang cukup dalam jagat wayang. Maka, penulis tidak dapat mengerti jika ada seorang dalang yang secara banga, bahkan pongah, mengatakan dirinya selalu sukses di setiap mendalang, di mana pun dan kapan saja. Ukurannya dalang itu adalah, pengunjung atau penontonnya berlimpah ruah sampai jutaan. Apakah dalang-dalang itu tidak mengetahui bahwa penontonnya yang berlimpah ruah tadi hanya sekedar mencari hiburan? Penonton yang datang itu hanya mengalihkan kepenatan hidupnya dengan cara melihat wayang. Dengan melihat wayang para penonton wayang berharap memperoleh hiburan dalam bentuk: lawakan konyol, jika pelu porno alias lekoh dan kemproh, wajah pesinden yang cantik, atau dapat menyaksikan ketrampilan dalang dalam menggerakkan wayang secara atraktif akrobatik. Mereka tidak memerlukan garapan alur cerita yang dramatik, tidak membutuhkan sanggit-sanggit yang rumit, tidak menginginkan keindahan bahasa serta sastra yang lungit, dan tidak menghendaki adanya sajian gending yang edipeni.

Kenapa demikian? Masyarakat kita terlalu jenuh terhadap hal-hal yang bersifat serius. Masyarakat kita sekarang terlalu sering menangkap lihatan dan dengaran yang serba duniawi materialistik. Budaya kita sudah terlanjur terkontaminasi oleh gerakan-gerakan yang bersifat instan. Terngiang dalam benak penulis, wejangan H. Boedihardjo (mantan menteri penerangan yang juga mantan Ketua SENA WANGI) yang mengatakan bahwa: Semestinya dalang memang harus melayani penonton, tetapi tidak selalu memanjakannya. Nasib wayang ke depan bukan terletak pada lancarnya regenerasi saja, tetapi juga kepedulian para dalang senior terhadap nilai-nilai yang dikembangkan dalam pakeliran. Regenerasi tidak berarti jika para dalang sendiri tidak memberikan pencerahan hidup bagi masyarakatnya. Masyarakat perlu mendapatkan apresiasi kreatif positif terhadap keadiluhungan wayang. Ciri kreatif bukan sekedar kebaruan bentuk, tetapi juga kebaruan nilai dalam memperkaya pengalaman rohani yang wigati. Di balik itu para dalang ketakutan tidak laku, jika tidak memanjakan masyarakat penontonnya. Memang, mereka pantas hdup, sebab tidak ada yang menyantuni para dalang. Masalahnya adalah, apakah layak disebut hidup jika diperoleh dengan cara memperdagangkan racun-racun yang mematikan? Sangat berbahaya jika sajian pakeliran yang digemari khalayak, yang selalu dimanjakan itu, serendah apa pun selera mereka, justru dianggap contoh paling baik oleh generasi muda dalang.

Penerusan pakeliran tidak dilandasi oleh kepekatan kreatif dalam mengugkap masalah moral, akhlak, dan atau budi pekerti, pelan-pelan tetapi pasti, akan membunuh sendiri dunia wayang. Meski sekarang pertunjukan wayang merupakan satu-satunya seni tradisi yang masih mendapat dukungan masyarakat luas dibandingkan dengan yang lain, dapat saja akan bernasif sama. Seperti halnya tobong-tobong wayang orang, ketoprak, ludruk, Aneka Ria Sri Mulat, dan seni pertunjukan rakyat yang lain, ibarat hidup tidak mati pun belum lantaran para seniman pendukungnya kurang cerdas di dalam mengantisipasi perkembangan zaman. Kebesaran seorang dalang, bahkan seniman apa pun, tidak sangat bergantung pada jenis atau tingkat kependidikannya.

Kebesaran nama Ki Nartasabda, Ki Anom Suroto, Ki Gandadarman, dan Ki Manteb Soedharsono, bukan karena tingkat kependidikannya, tetapi karena keuletannya dalam menangkap fenomena hakiki masyarakat. Demikian pula halnya dengan kebesaran nama Ki Panut Sosro Dharmoko dan Ki Purbo Asmoro, bukan karena lulus dari Konservatori Karawitan Indonesia, ASKI, atau mengantongi ijazah magister humaniora Universitas Gadjah Mada. Akhirnya, sudah sepantasnya jika sekolah, sanggar, atau tempat pembelajaran dalang sekarang sangat kekurangan peminat masuk. Statistik minat masuk ke PDMN, HABIRANDHA, Pawiyatan Keraton Surakarta, Jurusan Pedalangan ASGA Surakarta, SMKN 8 Surakarta, SMKN 9 Surabaya, ISI Yogyakarta, ISI Denpasar, dan juga ISI Surakarta menunjukkan tanda-tanda penurunan. Lembaga-lembaga pembelajaran dalang itu wajib memperluas jaringan untuk memberikan karya-karya apresiatif terhadap masyarakat luas. Meski, dalang itu tidak dapat dicetak dalam sebuah lembaga yang paling lengkap fasilitasnya dan bergensi sekalipun.
Keberhasilan calon dalang sangat bergantung pada pengalaman batin dalam pengembaraan serta kesungguhannya dalam berkontemplasi kekaryaan. Masa kejayaan dalang terbatas pada masa produktifnya, bukan sepanjang usianya. Telah banyak terbukti dalam lapangan bahwa kehebatan para seniman cilik tidak menjamin akan terbawa sampai usia dewasa. Oleh sebab itu, para orang tua dalang bocah, siapa pun namanya, jangan terlalu bangga kepada anak-anaknya yang sekarang terkenal di masyarakat. Apa kabar Chica Kuswaya, Desi Arisandi, Josua, Darmadi, Suparsih, dan para bintang cilik yang pernah memiliki ketenaran puncak di masyarakat, setelah kini, mereka berusia dewasa? Mereka hilang bersama dengan harta yang pernah terkumpul. Mudah-mudahan prediksi penulis ini 100 % meleset.
*Surakarta, medio Oktober 2010 jam 9:44

0 komentar:

Posting Komentar

 

The Dark Puspita Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review