Sabtu, 12 April 2014

Upacara Ruwatan dalam Masyarakat Jawa Sekarang

Diposting oleh Risa Puspitarini Sabandi di 18.50

Di masa sekarang, disebabkan oleh pengaruh perkembangan penalaran masyarakat dan semakin mantab keyakinannya terhadap agama-agama modern, mengakibatkan penyelenggaraan upacara ruwatan dianggap sesuatu yang tidak perlu lagi, mubadzir, pemborosan, tahayul, dan sebagainya.  Sebaliknya, masih ada anggapan bahwa upacara ruwatan tetap relevan, meskipun tergolong masyarakat elite yang sehari-harinya telah bergaya hidup modern dan tinggal di kota-kota besar.

            Di masa lampau, upacara ruwatan dianggap sebagai wahana pembebasan para sukerta, yaitu anak-anak yang sejak lahir dianggap membawa kesialan¾tidak suci, penuh dosa¾serta orang-orang yang berbuat ceroboh.  Anak sukerta dan/atau orang yang ceroboh itu dipercaya akan menjadi mangsa Batara Kala, oleh sebab itu perlu diruwat.  Pantas dipertanyakan, kenapa anak-anak sukerta yang lahir di luar kemauannya itu oleh orang tuanya dianggap sebagai pembawa sial?  Dengan tidak mengusik keberadaan mitos lama tentang arti pentingnya upacara ruwatan bagi insan yang digolongkan orang sukerta, makalah ini mencoba membahasnya atas dasar penalaran yang bersumber dari pengamatan terhadap pelaksanaan beberapa upacara ruwatan di berbagai tempat.

Berdasarkan ceritera pedalangan, Batara Guru berkelana berdua dengan isterinya, Dewi Uma, di atas gigir lembu Andini, lahirlah Batara Kala akibat pembuahan sperma Batara Guru yang tercebur ke laut, sebab tidak mampu menahan birahi terhadap kecantikan Uma, istrinya,.  Saya menangkap adanya pendidikan moral yang tersirat (berkaitan dengan pendidikan seks) dalam cerita itu, yaitu: orang yang beradab tidak selayaknya melakukan sanggama di atas kendaraan, apalagi memiliki jabatan tertinggi dan sangat terhormat seperti Batara Guru.  Artinya, jika sese-orang tidak mampu menahan birahi dan dimanjakan di sembarang tempat, akan melahirkan bocah yang selalu membuat durhaka kepada siapa saja, seperti Batara Kala.

Munculnya tokoh-tokoh dewa dalam pertunjukan wayang, termasuk dalam ruwatan, sering dianggap satu ungkapan kemusrikan, maka upacara ruwatan dengan menggunakan wayang oleh masyarakat Islam tertentu yang mengharamkan.   Padahal Batara Guru dan dewa-dewa yang lain, oleh para dalang dalam jagat pakeliran, hanya dipandang sebagai tokoh-tokoh ceritera semata. Meskipun  menggunakan nama-nama seperti yang dijadikan panutan agama Hindu, seperti: Syiwa, Brama, dan Wisnu tetapi karakternya jauh berbeda dengan image penganut agama Hindu.  Justru para dewa, dalam pertunjukan wayang kulit di Jawa sekarang, kecuali Sang Hyang Wenang dan Dewa Ruci, sering dilecehkan oleh para dalang.  Bahkan dalam silsilah wayang di Jawa, dewa-dewa merupakan anak keturunan Adam, kedudukannya tidak lebih tinggi dari tokoh-tokoh wayang yang lain.  Dalam sejumlah lakon wayang, sering terjadi para dewa justru tidak dapat mengatasi masalah yang dihadapi, penyelesaiannya terpaksa harus dibantu ksatria pilihan.

            Ada beberapa pendapat tentang latar belakang perlunya upacara ruwat dengan me-manfaatkan pertunjukan wayang.  Salah satu yang menarik adalah pendapat Ki Naryacarita (dalang senior dari Windan, Kartasura, Sukoharjo) yang mengatakan bahwa upacara ruwatan melalui pertunjukan wayang sebenarnya hanya sebagai sarana pendidikan moral bagi anak-anak.  Menurut Ki Naryacarita, bila orang tua mampu mendidik sendiri kepada anak-anaknya yang tergolong sukerta, upacara ruwatan dengan sarana pertunjukan wayang tidak diperlukan lagi.  Pernyataan ini sering diungkapkan langsung oleh Ki Naryacarita saat mendalang ruwatan. 

            Anak-anak tunggal (ontang-anting) digolongkan sukerta kemungkinan menjadi anak nakal sangat besar, sebab pada umumnya anak tunggal selalu dimanjakan oleh keluarganya.  Meskipun diakibatkan oleh program KB (Keluarga Berencana), anak yang hanya berjumlah dua (kembar, dhampit, kembang sepasang, dan kedhana-kedhini) berpotensi menjadi nakal, sebab sering terjadi kedua orang tua (ayah da ibu) berpihak kepada salah satu anak.  Anak dalam jumlah tiga (sen dang kapit pancuran, pancuran kapit sendang, banteng ngunda jawi, ngungggah-unggahi, tri purusa, serta tri wati) anak yang memiliki jenis berbeda dengan kedua saudaranya potensi untuk menjadi anak nakal sangat besar. Kemungkinan anak yang jenis kelaminnya berbeda dengan saudara-saudaranya (ngijeni) ini paling dimanjakan oleh keluarga.

Saya tidak mampu membahas kira-kira apa yang menjadi penyebab keluarga yang memiliki 4 orang anak (srimpi atau sramba) dan 5 orang anak (pendawi atau pendawa) yang berjenis kelamin sama tergolong juga anak sukerta?   Kemungkinan besar adalah anak-anak yang berkelamin sama dalam jumlah itu berpotensi mudah sekali cekcok, gampang membuat kelompok yang terpisah yang saling berpihak pada kelompoknya.  Secara kebetulan dalam cerita wayang, nasib Pandawa (Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) meskipun selalu rukun, tetapi nasibnya tidak pernah sepi dari masalah-masalah besar.  Perang Baratayuda memang dimenangkan Pandawa, tetapi seluruh anaknya menjadi korban dan mereka tidak dapat menikmati kemenangannya.

Istilah ‘kala’ dalam Bahasa Jawa dapat juga berarti ‘waktu,’ dalam konteks budaya dapat ditafsirkan bahwa siapa saja yang tidak mampu mengatur waktu dengan baik akan menghadapi bahaya besar, termasuk mengatur waktu untuk mendidik anak-anak berpotensi nakal seperti yang diuraikan pada alinea-alenia sebelumnya.  Disebabkan oleh kharismanyalah, maka dalang diberi kepercayaan untuk mendidik anak-anak, yang memiliki potensi nakal, melalui pertunjukan wayang. Dengan media wayang diharapkan anak-anak sukerta dapat mendapat berbagai ajaran moral, meskipun secara simbolik dan/ atau tersamar.

            Penalaran Ki Naryacarita itu, bahwa pertunjukan wayang ruwatan sebagai sarana pen-didikan moral anak, kiranya dapat dikembangkan terhadap orang-orang sukerta yang lain, yaitu orang-orang yang ceroboh dalam mengerjakan sesuatu hal¾merobohkan alat menanak nasi (dandang), mematahkan alat pelumat ramuan jamu (pipisan), membuang sampah di waktu malam, dan sebagainya¾yang juga harus diruwat.   Mereka (orang-orang ceroboh) itu juga tergolong menjadi jatah (mangsa) Batara Kala.  Tersirat satu pelajaran bahwa setiap orang harus dapat mengatur waktu dengan baik; tidak terburu-buru, selalu bertindak dan berperilaku hati-hati dalam mengerjakan segala hal, agar menghasilkan sesuatu secara optimal, tidak merusakkan alat-alat, serta selamat.

            Ada sinyalemen, bahwa latar belakang munculnya upacara ruwatan dengan pergelaran wayang kemungkinan atas akal-akalan (inisiatif atau gagasan) para dalang di masa lampau.  Kita semua mahfum bahwa profesi dalang memiliki kharisma yang tinggi di masyarakat pendukungnya. Oleh sebab itu, di masa lampau, upacara ruwatan melalui pertunjukan wayang dimonopoli oleh para dalang yang benar-benar memiliki geneologi vertikal (keturunan) dalang.  Besar kemungkinan bahwa upacara ruwatan menggunakan pertunjukan wayang merupakan taktik agar para dalang (meskipun sudah lanjut usia) tetap mampu menyangga hidupnya sendiri, tanpa harus merepotkan anak dan cucunya.   Beberapa kelengkapan sesaji upacara ruwatan¾yang pada akhir pertunjukan menjadi milik dalang¾merupakan modal bagi seseorang untuk mengembangkan pertanian dan peternakan. Sinyalemen ini dibantah oleh Ki kesdik Kesdalamana (Klaten), sebab di daerah sekitarnya, banyak dalang senior menganjurkan para keluarga miskin yang menyelenggaran ruwatan untuk meminjam kelengkapan sesaji yang tidak dimiliki.

            Ada sinyalemen lain tentang asal-usul penyelenggaraan upacara ruwatan dengan pertunjukan wayang dilatarbelakangi oleh pandangan bahwa anak bagi orang tua merupakan alat produksi keluarga.   Sehingga, anak yang jumlahnya kurang dari enam orang, harus diruwat.  Andai pandangan ini benar tentu saja upacara ruwatan sekarang menjadi tidak relevan, terlebih-lebih setelah adanya program KB.   Mestinya, anak yang jumlahnya lebih dari tiga orang harus diruwat.  Ada dalang Majakerta, dalam pakelirannya, Batara Kala berucap : . . . ‘kabeh bocah sukerta mau dadi mangsaku, kejaba sing wong tuwane padha melu KB’ (semua anak sukerta tadi menjadi mangsaku, kecuali yang orang tuanya mengikuti program KB).

            Penyelenggaraan ruwatan dapat dipandang sebagai bentuk upaya pelestarian, peng-agungan, dan pengembangan budaya tradisional.  Yang menjadi masalah adalah, bagaimana wujud serta apa yang menjadi motivasi penyelenggaraan?  Sangat disayangkan terhadap wujud pertunjukan wayang ruwatan saat ini, sebagian besar, hanya menekankan segi hiburan bila dibandingkan dengan sisi ritusnya.  Akhir-akhir ini banyak upacara ruwatan yang dilakukan para dalang, termasuk dalang senior, sangat menonjolkan humor, bahkan humor yang pornografi seperti yang sering saya lihat dalam pertunjukan wayang biasa, bukan ruwatan. Jelas keagungan dan kekhususan upacara ruwatan menjadi pudar, bila dalang tidak mampu mengekang diri dari ambisi menghibur. Saya berpendapat bahwa sajian pertunjukan wayang ruwatan harus dibedakan dengan pertunjukan wayang biasa.

            Saya juga menangkap satu gejala yang tidak sehat dalam penyelenggaraan ruwatan, artinya sudah menyimpang dari azas semula. Gejala itu adalah motivasi penyelenggaraan wayang ruwatan di berbagai kota besar yang saya amati.  Saya tidak pernah mendapat jawaban yang meyakinkan dari pihak bocah sukerta, bagaimana perbedaan kondisi mental mereka sebelum dan sesudah mengikuti ruwatan?  Pada umumnya, mereka menjawab sangat terpukau (merinding dan angker) pada saat-saat, secara simbolik, dibebaskan dari sukerta oleh dalang. Yang merasa dari suatu batin mencekam, lebih banyak dirasakan oleh para orang tua para bocah sukerta. Kelihatannya, yang merasa terbebas dari himpitan dosa justru para orang tua, bukan bocah sukertanya.
            Akhirnya, nasib kelangsungan wayang ruwatan akan dibawa kemana?  Meskipun wayang itu pada prinsipnya memiliki potensi yang netral¾dalam arti dapat diarahkan kemana saja serta dimanfaatkan untuk kepentingan apapun¾secara moral masyarakat pedhalangan dan/atau  pe-wayangan (dalang, peneliti, pengamat, kritikus dan sebagainya) secara moral tetap memiliki tanggung jawab besar terhadap eksistensinya, dalam hal kreatitas serta kualitas.  Dengan demi-kian tidak hanya asal-asalan; asal beda, asal laku, asal dapat duit, dan tentu saja tidak hanya asal eksis dan asal laris.

0 komentar:

Posting Komentar

 

The Dark Puspita Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review